Pedagang Yang Tidak Ada Niat Menjual.

Pedagang Yang Tidak Ada Niat Menjual

Sejak pandamie bisa dibilang saya belum sempat mengisi stock daging di freezer sebab toko daging favorit ada di ujung kota lain. Nah kemarin ini kangen juga jalan jalan kesana dan sekalian belanja daging rupanya toko itu mengambil alih toko di sebelahnya yang entah bangkrut atau pindah. Toko favorit kini lebih luas dan isi produk bertambah. Yang saya suka di toko ini daging belum di kilokan dan dibungkus jadi seperti belanja di pasar tradisional. Saya memasuki ruang toko daging dan memperhatikan potongan daging yang tertata rapih dibalik gelas kaca etalase.

Silakan baca juga. Call My Name.., Mawar Merah, Manfaat buah Ara/Tin

Tidak lama kemudian, seorang remaja yang belum pernah saya lihat muncul dari belakang toko. Dia bertanya kepada saya apa yang ingin saya beli, dan saya menyebutkan dan menunjukkan jenis dan nama daging itu secara bergantian.

Ketika sampai di rumah, saya membayangkan membuat iga sapi panggang, tetapi ketika saya membuka bungkusan itu, hanya ada empat potongan tulang kecil dengan lemak tebal. Saya mengulangi skenario transaksi di toko daging. Saya ingat jari ini menunjuk ke iga sapi ukuran 15 cm, jadi saya katakan hanya empat karena ukurannya besar. Tapi saya tidak memperhatikan ketika remaja itu mengambil dan membungkusnya.

Ketemu pedagang yang tidak ada niat menjual bikin gereget, kan harga daging di jual per-kilo kalau saya bilang empat dengan ukuran besar dia bisa menjual 1kg sedang tetelan tadi cuma 200g beratnya. Niatan makan iga bakar tidak jadi deh.. dan tetelan isi lemak ini kalau di kasih kucing juga kasihan kucingnya! Ya sudah, di simpan saja dulu untuk bikin kuah baso.

Tinggalkan Balasan