Positive thinking is good and self-control is better!

Positive thinking is good and self-control is better!

Bagaimana menghadapi orang yang tidak paham toleransi.

Membaca berita tentang kematian supir bus di Francis yang ter-aniaya oleh sekelompok anak muda yang tidak bertanggung jawab dan dungu! dengan keji mereka menggebuki bapak supir yang berniat baik menyarankan mereka untuk pakai mask sebelum masuk busnya. Hal yang seharusnya tidak harus terjadi, bapak supir (RIP) itu hanya menjalankan tugasnya dan kenapa pelaku tersebut marah membabi buta kepada orang lain cuma karena tersinggung tidak di ijinkan naik bus.

Setelah membaca berita tersebut saya menjadi ingat pengalaman dua minggu lalu sebelum pemerintah mewajibkan “pakai mask di angkutan umum”. Saya di buat nervus dengan pengalaman ini dan sangat tidak nyaman dibuatnya. Kereta-pemandu sebenarnya ditargetkan untuk delapan orang itu sebelum ada pandemi tapi pada titik sekarang, sangat penting untuk mengikuti aturan menjaga jarak dan kalau menjaga jarak tidak memungkinkan maka pakai mask, rekomendasi pemerintah ini sering diulang-ulang untuk kita semua #agar kita punya kesadaran sendiri# dan menurut saya saran ini bijak sekali.

Setelah lelah keliling dan merasa cukup berjalan kaki di gunung saya memutuskan turun dan mencari tempat kosong di kereta-pemandu, setelah dapat duduk saya melihat ada tujuh kepala termasuk kami, syukurnya semua pakai masker. Saya menduduki tempat di deretan tiga wanita dan di bagian depan ada dua pria maka suami ambil duduk di deretan itu, maka jarak antara sisi penumpang sisa dua jengkal.

Sayang nya sebelum pintu di tutup ada seorang pria bertubuh besar ingin masuk ke tempat kami tapi ia tidak pakai masker! Dia bertanya ada yang kosong! basa basi padahal bisa di lihat tempat sudah penuh. Pria besar berkaos dan celana pendek itu melirik ke bagian kiri saya tapi wanita di sebelah kiri saya menggeser pantatnya ke sisi saya dan berucap “kami sudah berempat” katanya singkat. Turis tersebut tersinggung terlihat dari wajahnya yang berkeringat memperhatikan kami bertujuh bungkam tak memberi respon sebab selain tempat sudah ngepas kita juga ragu ia tidak pakai masker. Pria itu bukannya beranjak dan bertanya di tempat sebelah yang masih setengah kosong ia malah tetap berdiri nunggu.

Kenapa pria ini memilih tempat kami yang sempit pikir saya sedangkan di samping kanan ia berdiri baru ada empat kepala dan masih bisa menampung dua-tiga orang dewasa tetapi di situ tak ada yang pakai masker. Apakah itu alasannya !? Alangkah egois pikir saya memilih tempat ber-masker sedang dia sendiri tidak pakai! Sebetulnya saat itu saya berhak memintanya duduk di tempat rombongan yang tidak pakai atau jika ia mau gabung dengan kami harus pakai masker! Sebelum saya angkat bicara lelaki yang duduk disebrang saya akhirnya mengalah tampa permisi memepetkan diri ke pria di sebelah-nya dan orang tidak pakai masker tadi langsung nyerobot masuk melewati saya dan suami seketika tempat kita menjadi sesak, saya pun dibuat nervus geregetan! kenapa tidak karena badannya yang besar dan berotot itu makan tempat hingga sisi ruang antara penumpang tidak ada sisa saat itu dengkul saya jadi bersentuhan dengkul pria itu untung saja saya pakai celana panjang dan spontan saya menyudutkan diri ke sisi kanan pintu.

Ya ampun..! Suasana turun gunung tentu jadi tidak nyaman sama sekali saya dan suami harus berpaling ke sisi jendela pintu selama kereta turun agar tidak berpapasan napas dengannya yang terlalu dekat dengan posisi kami duduk ( kereta biasa standar jarak berhadapan 1 meter sedang ini hanya setengah), begitu juga wanita di sebelah saya yang ikutan mepeti temannya ke kiri untuk menghindari bentrokan napas. Pertanyaan saya kenapa justru orang-orang seperti pria ini dan mereka yang sudah tahu dalam posisi yang salah /tidak patuh/diluar rule tapi justru tidak punya kesadaran, songong dan agresif.

Positive thinking is good and self-control is better! Wahai sesama pemakai kendaraan umum. Sementara ini BE SMART & PLAY FAIR !

Iklan

Tinggalkan Balasan