Johanna

Apa pun alasannya kadang suatu ikatan dan percintaan memang dapat terpisahkan, mungkin karena itu sudah takdir dari sana. Atau tidak semua insan yang belum dapat memegang cinta itu secara abadi.

Kisah seorang gadis kecil bernama Johanna, ia lahir dari pasangan muda yang tidak beruntung dalam relationship, yaitu ibu dan ayah Johanna yang harus berpisah melepaskan cinta kasih mereka karena suatu tradisi. Ibu Johanna kembali pulang ke negeri kelahirannya dan menuruti perintah kedua orang tua. Sedangkan ayah Johanna yang begitu mencintai istrinya harus rela dan tegar melepaskan ibu dari anak kandung mereka, Johanna. Ayah Johanna sejak kepergian istrinya 3 tahun silam, ia menjadi pendiam namun cintanya terhadap Johanna tidak berkurang, bahkan ayah Johanna merasa bersyukur atas kehadiran Johanna yang selalu mengisi hati dan hari harinya.

Merawat seorang anak sebatang kara tidaklah mudah namun juga tidak begitu sulit pikir ayah Johanna. Kesulitan single parent pada dasarnya harus dapat membagi waktu antara pekerjaan dan anak. Beruntung ayah Johanna mempunyai keahlian yang tidak terikat waktu di kantor. Ia dapat membawa pekerjaannya kerumah dengan begitu ia dapat memberikan waktu dan perhatian pula kepada gadis ciliknya.


Pagi yang gelap dan pajar segera menampakan sinarnya.
Terdengar suara kokok ayam jantan berkumandang dengan lantang dan berani. Johanna yang terlelap tidur terbangun dari mimpi, segera ia tarik selimut dan menutupi kupingnya yang mungil dan siap mendengkur kembali.

Tiba-tiba seseorang berteriak, ”Jo.., Joee bangun.” perintah sang ayah.
Johanna membalikan badan, perlahan-lahan membuka mata dan menyahut mengelak ayahnya.
” Ayah masih masih pagi untuk bangun, ayam gila hanya berkokok.” seru Johanna.
”Itu sebabnya kamu harus bangun! ” Ayahnya menjawab. ” ini hari pertama sekolah, kamu tidak ingin terlambat kan!” katanya.

Johanna menolak. ”No! Tidak..! Saya masih ngantuk.” Ayah Johanna segera datang ke kamar dan mendapatkan anak gadis ciliknya mengumpat di balik selimut. ” Jangan malas nona cilik, di sekolah ada banyak anak-anak dan mungkin kamu bisa bermain dengan mereka.” jelas ayahnya.
Johanna memandang wajah ayahnya, untuk melihat apakah ia serius. Maka Johanna segera bangun. Seusai mandi ayahnya membantu Johanna mengenakan baju dan persiapan untuk kesekolah. Ayahnya mengatakan bahwa teman teman di sekolah mengenakan pakaian yang rapih dan tidak boleh kotor.

Johanna di bonceng dengan motor menuju sekolah. Selang beberapa waktu Johanna di tuntun sang ayah keruang kantor besar. Di ruangan ada beberapa ibu dan bapak yang duduk saling bertatapan. Sang ayah berbicara dengan salah satu guru wanita. Johanna menunggu patuh di luar pintu ruangan dan mengamati hilir pikuk suara anak anak yang lebih dewasa berlari dan bercanda di depan beranda luas. Kemudian ayahnya dan guru wanita tersebut menghampiri Johanna.

Ayah Johanna berkata. ”Sekarang kamu bisa ikut ibu guru, belajar dan kenalan dengan teman teman baru kamu, tapi ayah tidak bisa ikut masuk,” lanjutnya.  ”Miss Maria bertugas mengajari kamu dan teman teman di kelas.”
Ayahnya mengecup pipi Johanna. ” Jangan kawatir ayah akan datang jemput kamu nanti usai sekolah ya..” balas ayah Johanna menenangkan.

Johanna menatap ayahnya melambaikan tangan dan berjalan melewati pintu ruang kantor, sedangkan Johanna masih dalam keadaan takut dan bingung seketika. Ibu Maria menyapa Johanna dan menjelaskan sebentar lagi Johanna tidak akan merasa takut karena teman teman sebayanya sudah menunggu di kelas. Ibu guru Maria memegang tangan nya dan membawa Johanna ke ruang kelas yang penuh anak-anak bocah cilik sepantaran.

Johanna tidak tahu berapa banyak anak-anak yang ada di situ. Mereka berteriak, saling mendahului dan ada yang bernyanyi dan ada yang menatap dirinya penuh tanda tanya.
”Hallo anak-anak…, kita mendapatkan murid baru,” teriak bu guru sedikit keras. Serempak kelas itu berubah suasana.., ada yang tertawa dan berbisik dengan pandangan mata ke arah Johanna. Wajah Johanna seketika memerah dan merasa malu.
Tiba tiba gadis mungil berwajah manis di seberangnya berceloteh ramah.


”kamu bisa duduk dengan aku, disebelah aku kosong.” jelasnya. Sedang anak anak yang lain masih berbisik bisik, bu guru Maria menjelaskan bahwa Johanna masih bingung dan malu dan berharap nanti siang anak anak di kelas dapat membantu nya menunjukan tempat bermain dan beristirahat. Serempak anak anak menjawab. ” Ya miss Mariaaa..”

Johanna mendapatkan tempat duduk tepat di sebelah gadis mungil yang berceloteh ramah tadi.
”Nah Riris kamu sekarang dapat teman baru, semoga kalian berdua dapat bekerja sama.” tegur bu guru Maria ramah dan kembali berdiri di depan kelas. Guru Maria menjelaskan agar mereka mengeluarkan buku mate dan mulai belajar menyebutkan angka angka yang tertera di papantulis.

50, 60, 70, 80, 90, 100.., dan seterusnya.
Riris dan anak anak yang lain begitu antusias mengikuti suara ibu guru mengeja angka angka, bahkan ada yang sengaja mengejanya salah dan terdengar lucu.

Hari pertama di sekolah membuat Johanna lelah tapi ia sudah tidak sebingung tadi pagi dan tidak pula merasa takut. Johanna memperhatikan bagaimana anak laki sebayanya di samping selalu mencuri pandang dengan tatapan yang galak. Johanna hanya memandang balik tatapan anak laki itu dan kembali mendengarkan suara ibu guru yang tegas dan ramah.
Ketika jam berdering mengisi ruang sekolah anak anak dengan sopan dan tertib memasukan buku buku ke dalam laci meja belajar mereka dan duduk menanti komando ibu guru. ”Johanna kamu bisa mengikuti teman teman dan Riris ke tempat istirahat dan bawa sekalian box makan kamu.” perintah ibu guru Maria mengingatkan. Johanna mengangguk kalem.

Dengan sedikit malu Johanna mengikuti teman temannya, mereka memasuki ruang yang sudah terisi dengan anak anak kelas lainnya. Riris menunjukan suatu meja yang masih kosong tempat mereka makan.
Selain Riris yang duduk di sebelahnya, anak laki laki yang tadi menatatpnya galak juga duduk di situ. ketika ia melihat tatapan Johanna, anak itu berkata. ”Aku Dhani umur ku 7 tahun setengah.” katanya lantang dan bulan depan aku ulang tahun!”
Dhani mengulurkan tangannya dan mengambil tangan Johanna yang belum siap dan menghentakan tangan mereka kencang. Johanna sedikit meringis sambil menarik tanganya dan menjawab.   ”Nama aku Joe.. Johanna.”
Dhani memberi senyum lebar lalu membuka boxlunch dan menyantap lahab. Riris berbisik dan mengatakan mereka tidak boleh ribut di saat lunch. Joe pun mengganguk dan membuka box yang ia bawa dan memakan roti yang di buat ayahnya tadi pagi.

Sesudah jam lunch berakhir mereka serempak keluar bermain di hall dan di tempat permainan. Johanna berharap ia dapat pergi ke taman dan mungkin dapat melihat ayahnya menunggu disana. Johanna berjalan keluar hall.
”Heyyyy.. Joii mau kemana?” sapa Riris. Joe menengok kebelakang.  ”Aku ingin melihat ayah di taman bermain.” jawab Johanna.

”Pasti tidak ada..! mama, papa.. datang nanti ketika bell bunyi keras.” kata Riris meyakinkan. Johanna kurang yakin ia tetap berjalan dan menuju taman bermain dan melihat sekeliling mengamati diluar yang mana mungkin ayahnya sedang menunggu. Riris seperti mengerti bagaimana perasaan Johanna, iapun mengikuti dari samping dan mengajak Johanna duduk di bangku ayunan yang masih tersisa dan ikut menunggu.

”Mama aku nanti menjemput aku saat jam berdering keras.”    ”Jika papa kamu tidak jemput, mama bisa antar kamu sekalian.” Ajuk Riris. Johanna tersenyum dan mereka kembali bermain. Jam belajar berlanjut, Johanna mengikuti pelajaran dengan serius dan sesekali ia melirik senyum Riris teman barunya. Saat jam berdering keras ibu guru Maria mengatakan agar mereka bersiap untuk pulang dan bertemu esok harinya dengan ceria.
” Ya miss Maria, selamat sore miss Mariaa.” jawab mereka serempak.
Johanna dan Riris keluar berbarengan dari kelas dan berjalan menuju pintu gerbang mencari orang tua mereka.

Riris menghampiri seorang ibu muda berbaju merah dan memeluknya.
Johanna melirik sebentar kepada Riris sahabat barunya dan melambaikan tangan lalu ia pun segera berlari menuju ayahnya yang sudah menanti diatas motor.

Cerita lain tentang  Johanna ?  Ayah

Autor: Jan
Pic: BM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s