Ayah

Sejak tiga hari lalu Johanna di anjurkan untuk beristirahat di rumah. Awalnya Johanna merasa sehat namun ketika ayahnya di tugaskan ke luar kota untuk beberapa hari Johanna bersikeras dan merengek minta di ajak. Dahulu ayahnya sering mengajak Johanna ke luar kota. Tapi kini Johanna ada tugas sekolah dan ia harus belajar mandiri menurut ayahnya.
Johanna menangis se-segukan ia kawatir ayahnya tidak kembali dan melupakan dirinya. Dengan nada halus dan tegas ayahnya menyatakan ia akan kembali dalam dua hari dan membawa oleh oleh untuknya. Johanna menaikan alis mata memandang sang ayah tapi Johanna tiada daya, ayahnya cukup mempunyai alasan agar ia tidak takut di tinggal pergi karena tante Lina adik ayah akan datang menginap selama ayah di luar kota. Sore hari tante Lina tiba, Johanna memperhatikan antara ayah dan tantenya yang sedang bercakap. Perawakan tante Lina kurus dan kelihatan sangat gesit, suara terdengar jelas dan paras cantik namun perempuan itu tidak banyak bicara pula seperti ayah Johanna.

Hari pertama tampa ayahnya sangat aneh buat gadis cilik itu tapi Johanna kelihatan berusaha untuk tidak merepotkan tantenya. Di sela sela usahanya memperhatikan kebutuhan Johanna, tante Lina lebih banyak diam dan sering membuka maps dan membaca kertas yang dikeluarkan dari dalam tas.
Pada hari kedua tantenya mengantar Johanna kesekolah bersama supir pribadi. Setiba di sekolah tantenya memberikan box lunch dan berkata sore ia akan menjemput. Mobil sedan itupun kembali melintas jalan sekolahan keluar menuju jalan raya. Johanna masuk ruang sekolah dan menghampiri Riris yang sedang berdiri di depan kelas bersama teman teman.

Storie Johanna I. Sekolah

Ayah-CgGado

Di Taman bermain seusai makan Riris bercerita Dhani mengundang mereka ke pesta ulang tahun.
” kamu datang juga kan? aku mau beli mobil mobilan untuk Dhani.”  Riris menjelaskan.
”kamu mau kasih apa?”  tanyanya lagi.  Johanna diam sesaat kemudian menggeleng, ia menarik napas dan berkata.
”Ayah sedang keluar kota, aku tidak tahu bawa hadiah apa.”  Jawab Johanna singkat.
Sebetulnya Johanna menyimpan rasa kekawatiran bahwa ayahnya lupa kembali pulang. Johanna menyukai teman teman dikelas ada yang riang, diam dan ada yang suka meledek. Setiap kelas di primer school jumlah anak terbagi menjadi dua puluhlima kepala. Dan salah satu anak di kelas Johanna ada yang orang tuanya single parent. Maka Johanna tidak merasa aneh jika ayahnya yang menjemput.
Pukul waktu 15:05 sore, Johanna memandang ke depan pintu gerbang dan melihat kekosongan disana. Riris, Dhani, Monti dan teman teman yang lain telah dijemput orang tua mereka beberapa saat yang lalu. Ibu guru Maria duduk di bangku depan hall menemani Johanna menanti jemputan. Miss Maria bertanya apakah Johanna akan hadir di pesta ulang tahun Dhani. Johanna hanya mengangguk dan tersenyum. Ia berharap ayahnya membawa oleh oleh yang banyak agar ia dapat memberikan satu untuk Riris dan Dhani.

Selang beberapa menit mobil sedan tante Lina mendekati gedung sekolah, ibu guru menuntun Johanna mendekati mobil sedan itu. Bapak supir membuka pintu dan memberi penjelasan kepada ibu guru Maria.
” Maaf ibu guru, jalanan macettt…”  ”Saya dikirim oleh ibu Lina menjemput nona Johanna,  ibu Lina masih di kantor bu sekarang ini.” Sambil membukakan pintu bapak supir menyilakan gadis cilik itu masuk. Johanna melambaikan tangan kepada ibu gurunya.  ”Byee miss Maria.”   ” Byee Johanna.”  balas ibu guru.
Mobil sedan berjalan laju Johanna berharap ayahnya sudah menanti di rumah ia sangat lelah berkali kali taklepas memikirkan ayahnya dan seketika Johanna terlelap.

Hentakan halus membangunkan Johanna dari mimpi bapak supir membukakan pintu mobil dan mengajak Johanna turun.
Johanna terbangun menatap dari balik jendela mobil, pintu rumah yang bukan milik rumahnya. Ia menoleh bapak supir kaku.
”Ini rumah ibu Lina non, miss Hera di dalam sudah siapkan perlengkapan makan.”  Kemudian dari dalam pintu keluar seorang perempuan baya yang mengenakan pakaian uniform putih.
”Hallo Johanna, saya miss Hera ayo masuk kamu pasti sudah lapar ya?”  kata perempuan itu ramah. Johanna masih belum bergerak dari tempatnya berdiri dan menatap perempuan yang berpakaian seperti suster yang menegurnya ramah. Dari balik pintu Johanna dapat melihat samar samar seorang laki laki tua duduk di atas bangku beroda melaju pelan menghampiri pintu yang dibuka perempuan ber-uniform.
Johanna menjadi bimbang dan menengok kearah pintu gerbang yang sudah tertutup dan bapak supir bersama mobil sedan telah lenyap. Laki laki tua itu menghentikan kursi rodanya, menatap Johanna ia menerobos pintu dan berhenti tepat di belakang perempuan yang mengenalkan dirinya Hera.

Lelaki tua itu mengatakan sesuatu yang tak dapat dimengerti. Wajah pucat tampak jelas di wajah Johanna, bibirnya bergetar dan kelihatan panik. Perempuan suster itu membungkuk dan menegur Johanna agar tidak menangis dan menjelaskan bahwa dirinya mengenal bapak Stefan ayah Johanna.  Miss Hera mengajak gadis cilik itu memasuki rumah yang masih asing baginya ia sedikit takut dan bingung. Miss Hera menyiapkan makan malam Johanna terlebih dahulu karena tante Lina pulang agak terlambat hari ini. Johanna di minta untuk menginap di rumah tante Lina sambil menunggu ayahnya datang. Johanna mendengar nama ayahnya di sebut ia menjadi agak terhibur.

Rumah tante Lina sangat besar dan bertingkat, perobatan yang menghiasi rumah tertata sangat rapih. Johanna menanti makan malam ia duduk di depan sebuah meja makan panjang yang di hiasi bunga indah, Johanna menengok kanan kiri dan memperhatikan sekeliling ruang, kepalanya hampir tidak terlihat jelas terhalang bunga di meja. Ruangan itu sepi ia hanya duduk sendiri sedangkan laki laki tua itu tidak mengikuti masuk, menurut miss Hera yang duduk di kursi roda itu adalah paman Jhon suami tantenya.

Untuk waktu yang singkat Johanna merasa sedih dan sendirian tapi ia tidak takut karena ayahnya akan segera menjemput. Usai makan malam miss Hera memandikan Johanna dan memberi petunjuk kamar tidurnya.
” kamu dapat bermain di kamar dan jika perlu bantuan saya ada di kamar sebelah.”  Miss Hera meletakan tas Johanna di atas tempat tidur dan menutup pintu. Johanna bergegas menuju jendelah besar di samping tempat tidur ia menggeser meja rotan kecil tepat di bawah jendela dan menaiki meja itu dan mengintip keluar jendela menunggu suara motor. Untuk beberapa waktu Johanna memandang kosong keluar pohon pohon di taman rumah tantenya. Pemandangan di seberang jalanan samar samar hari telah mendekati petang suara burung kukuk terdengar pelan tampa menunjukan sosoknya. Johanna tak merasa takut sebab di rumahnya sering terdengar suara burung yang berkicau dari atas pohon di taman belakang.

Akhirnya Johanna merasa jenu dan letih menanti kekosongan di depan jendela, ia pun menutup bingkai jendela dan naik keatas tempat tidur. Ia mengeluarkan kartu ulang tahun Dhani yang didapat dari Riris, sambil mencoba mengeja hurup hurup yang tertera. Johanna sangat antusias ia berharap ayahnya dapat membacakan isi tulisan di kartu undangan tsb. Ketika miss Hera masuk ke kamar, Johanna sudah terlelap. Nyatanya ayah Johanna tak sempat pulang malam itu, dan iapun tak dapat berbicara melalui telefon dengan gadis ciliknya yang telah tertidur.

Tengah malam Johanna terbangun dan sedikit kaget karena ruang kamar gelap, ia memanggil nama ayahnya berkali kali tak kunjung datang. Johanna mencoba turun dari tempat tidur, kaki Johanna yang pendek tak dapat mengapai lantai akhirnya Johanna terjatuh dengan suara gaduh.
”Auuuhhhwaa..” ia duduk di lantai dalam kegelapan sambil mengelus kepalanya.
Pintu terbuka dan lampu kamar menyalah, tante Lina memandang kaget mendapati Johanna di lantai dalam posisi mengelus kepala. Tante Lina melihat memar merah dikepala Johanna dan segera mengambil kompresan coldpax dari dalam freezer. Tante Lina memandangi anak cilik tersebut dan menanyakan apakah kepalanya masih sakit. Johanna menggeleng dan berusaha mengelak coldpax yang di letakan diatas benjolan. Tante Lina mengurangi tekanan coldpax itu dan memberitahu Johanna bahwa ia berusaha mengurangi rasa sakit dan agar benjolan dikepala tidak membesar. Johanna patuh sambil meringis kedinginan. Selang berapa menit miss Hera masuk kamar, tante Lina segera meminta perempuan itu untuk membawakan Johanna segelas susu hangat. Mereka berdua memperhatikan Johanna meminum habis susu hangat itu dan menunggu. Tante Lina dan miss Hera bersyukur anak cilik itu tidak memuntahkannya dan lega tak terjadi apa apa dengan Johanna.

Esok hari Paman John diatas kursi roda sudah rapih disamping meja makan menanti istrinya dan ponakan kecil. Johanna menolak untuk sarapan pagi, ia sangat kecewa dan masih bingung tak melihat wajah ayahnya.
Maka miss Hera segera memasukan bagian sarapan itu ke dalam boxlunch dan di sisipkan ke dalam tas sekolah Johanna. Di mobil menuju sekolah ia duduk berdampingan tante Lina, Johanna coba menahan airmata yang hampir jatuh dari pipinya yang mulai memerah dan memandang jalanan dari sisi jendela mobil. Pikirannya melayang dan berkecamuk bagaimana jika ayahnya melupakan dia dan Johanna harus tinggal bersama tante dan om yang tidak dapat berjalan. Johanna sama sekali tidak takut dengan kondisi paman Jhon, namun ia tidak ingin kehilangan ayahnya.

Tante Lina membawa Johanna ke ruang guru dan menjumpai gurunya miss Maria yang sedang berbincang bincang dengan rekan kerja. Johanna tak dapat mendengar percakapan mereka karena ia masih memikirkan ayahnya. Tante Lina hanya menjelaskan kepada miss Maria bahwa ayah Johanna masih satu hari di luar kota, sore nanti bapak supir yang akan menjemput ponakannya. Tante Lina berterima kasih kepada miss Maria dan pamit dan ia melambaikan tangan kepada Johanna dan berjalan keluar ruangan. Dengan tersenyum gurunya segera meminta Johanna untuk bergabung ke kelas.

Johanna menghampiri kamar kelas dan suara Riris bersama teman teman sudah berceloteh tentang homework yang mereka dapat kemarin, Dhani, Riris bersikeras bahwa jawabannya lah yang benar, mereka berdua saling membandingkan homework mereka sehingga sama sekali tak menyadari disaat Johanna mengambil posisi duduk di sebelah Riris. Johanna pun tersipu ia lupa kemarin untuk mengerjakan Pr nya, ketika ingin mengerjakan homework pikiranya terpaku pada kartu undangan ulang tahun Dhani dan ayahnya. Johana merasa malu dengan dirinya dan coba untuk tak menunjukan kepada Riris perasaannya. Beruntung hari itu miss Maria tidak menyuruh mereka maju satu persatu untuk memberi nilai, melainkan ia meminta salah satu dari murid dikelas untuk maju kedepan dan menulis jawaban dipapan, Johanna menarik napas lega dan mulai mengerjakan homework yang tertunda.
Di kantin gadis cilik itu hanya meminum sekotak susu sedang potongan buah, cracker rasa keju serta roti bakar yang dibuat miss Hera tadi pagi tak mengoyah selera makan Johanna. Melihat hal itu Dhani tentu saja tak dapat diam, ia suka sekali roti bakar.

” Heyyy Joe.., boleh aku menyicipi roti bakar mu?” tanya Dhani merajuk. Johanna mengangguk lalu menyodorkan boxlunch nya ke arah Dhani. Dengan gembira anak laki itu meraih roti bakar dan melahapnya dengan nikmat. Teman teman di kelas tak menyadari bahwa Johanna dalam keadaan lelah dan bingung memikirkan ayahnya dan Johanna berharap ayahnya segera tiba sebelum ulang tahun Dhani. Johanna sangat merindukan ayahnya dan seketika air mata menitik jatuh, ia segera menghapus airmata itu sebelum temannya menoleh.
Cuaca di luar gerimis anak anak di larang bermain ke taman oleh guru guru mereka. Johanna mendengar jauh suara motor memasuki halaman sekolah dengan menyelinap diam diam ia keluar dari ruang hall dan menyelusuri jalan menuju taman, berharap ayahnya yang memasuki halaman sekolah. Kepala dan baju Johanna sedikit basah oleh gerimis namun gadis cilik itu tetap berjalan menuju perbatasan pintu gerbang lalu ia mengintip dan melongok keluar. Seorang laki laki duduk di atas motor dan membuka helmnya, ternyata ia salah satu guru dari sekolahan itu. Johanna dengan kecewa kembali masuk ke hall danbergabung dengan Riris.

Kali ini bapak supir datang tepat waktu menjemput setelah tiba di rumah tantenya, bapak supir segera berangkat kembali ke kantor. Johanna mendekati miss Hera yang telah membukakan pintu dan masuk keruangan yang ia kenal. Miss Hera membantu Johanna mengganti pakaian dan mendapatkan kepala anak itu sedikit panas, perempuan itu segera mengambil thermometer dan menge-check suhu badan Johanna.
38°celcius, miss Hera bertanya apakah Johanna sempat muntah di sekolah. Johanna mengelengkan kepala, perempuan itu mengkawatirkan ponakan majikannya terkena geger otak akibat jatuh dari tempat tidur semalam. Miss Hera berprofesi perawat dan sejak lima tahun terakhir bekerja sebagai suster pribadi mengurusi suami tante Lina yang terserang stroke dan mengakibatkan gerakan dibagian kaki dan leher terganggu. Sejak itu maka tante Lina harus mengambil alih pekerjaan suaminya selama ia dalam penyembuhan.

Ayah_Corentan gGado

Miss Hera segera meminta Johanna untuk berbaring di kamar dan menyiapkan makanan serta sirup anak peredah demam. Tante Lina secepatnya pulang kerumah ketika mendengar Johanna demam dan memeriksa kondisi anak itu. Thermometer masih menunjukan angka yang sama sesuai penjelasan miss Hera. Dengan kekawatiran tante Lina segera menuntun Johanna dan membawa ke dokter anak terdekat. Dokter hanya mengutarakan bahwa Johanna terkena flu dan amandelnya kelihatan sedikit membengkak yang menyebabkan susah menelan. Sambil memberi rezept obat dokter menyarankan agar Johanna tidak sekolah sekitar 2-3 hari sampai amandel dan panasnya redah.
Di rumah tante Lina membaringkan ponakannya di kamar dan menunggu Johanna. Ketika tantenya ingin membacakan buku cerita tiba tiba ayah Johanna memasuki kamar.
”Apa kata dokter, apakah Johanna baik baik?” tanya ayahnya kawatir.  Sebelum tante Lina menjawab pertanyaan kakaknya, gadis cilik itu segera bangkit dan meloncat kepelukan ayahnya.  ”Ayahhh.” teriaknya gembira.
Mendengarkan penjelasan tante Lina ayah Johanna memeluk erat dan mencium pipi mungil anaknya. Ayah Johanna memutuskan menginap di rumah adiknya semalam dan menemani Johanna dan membacakan buku anak anak.

Kini Johanna sudah kembali ke rumah bersama ayahnya, walau lehernya masih terasa sakit namun Johanna merasa gembira sekali. Gadis cilik itu menunjukan kartu undangan Dhani dan meminta ayahnya untuk membacakan.  Ayahnya mengambil dan membacakan undangan itu.
”Ulang tahun Dhani di rayakan pada hari jumat sore usai sekolah.”
”Jika kamu ingin pergi ke pesta Dhani, kamu harus sembuh dahulu nona kecil.” kata ayahnya singkat.
”Maka kamu harus banyak makan dan harus nurut ayah, hari ini kamu istirahat dan kita lihat apakah besok kamu bisa kesekolah.”  ayahnya menambahkan.

Johanna ingin mengatakan sesuatu tapi ia undurkan karena ia berharap bisa sekolah tapi Johanna ingin cepat sembuh dan datang ke ulang tahun Dhani. Johanna telah melupakan oleh oleh yang di janjikan ia begitu gembira ayahnya telah kembali, gadis cilik itu menuruti perintah ayahnya ia makan banyak dan minum obat dari dokter dengan berani.
Johanna ingin cepat sembuh, hingga tak menyadari bahwa hari itu sudah hari kamis. Sore hari setelah ayahnya selesai bekerja dan tengah duduk membaca koran. Johanna menanyakan apakah ia sudah sembuh. Ayah Johanna mengambil thermometer dan memasukan ke mulut Johanna serta memeriksa amandelnya. Laki laki itu merasa lega dan memegang kening anaknya yang sudah adem, ayah Johanna bangkit dan mengambil sebuah bungkusan.

”Ini untuk kamu pakai besok.” Kata ayahnya sambil menyodorkan bungkusan itu.
Johanna tersenyum, tampa menunggu gadis cilik itu membuka bungkusan yang diberikan ayahnya, ia mendapatkan sebuah kaos bergambar teddy dan celana bermuda warna biru. Ia segera mencium pipi ayahnya dan berterima kasih. Ayahnya kemudian memberikan mainan dan dua buku cerita kebun binatang. Johanna menyatakan ia akan memberi salah satu dari buku itu untuk hadiah ulang tahun Dhani dan satu mainan untuk Riris. Ayahnya mengganguk melihat kegembiraan anaknya dan membantu Johanna membungkus buku itu dengan kertas kado.

Autor: Jan
Pic: BM

Tinggalkan Balasan